Opini

Young Progressive Academy: Ruang Belajar yang Berpihak pada Keadilan

×

Young Progressive Academy: Ruang Belajar yang Berpihak pada Keadilan

Sebarkan artikel ini
Foto istimewa
Foto istimewa

Penulis : Mega Peserta Young Progressive Academy (YPA) Batch 4

TAJUK1.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia Office bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia secara konsisten menyelenggarakan kegiatan Young Progressive Academy (YPA).

Program ini dirancang sebagai ruang belajar strategis bagi anak muda Indonesia untuk memperkuat wawasan kebangsaan, demokrasi yang berkeadilan, ruang inklusif, serta perspektif politik yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

YPA melibatkan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari kelompok marginal dan rentan. Peserta didorong untuk berpikir kritis dan kreatif dalam membaca realitas sosial-politik Indonesia. Dalam setiap proses pembelajaran, peserta diajak untuk terus mempertanyakan ketimpangan, mengurai persoalan struktural, serta memetakan kembali arah pembangunan nasional yang berlandaskan prinsip keadilan sosial.

Pendekatan ini menjadi penting di tengah praktik pembangunan yang kerap menempatkan kelompok marginal dan rentan sebagai pihak yang paling dirugikan, sekaligus paling jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Lebih dari sekadar forum diskusi, Young Progressive Academy juga membagun solidaritas antarpemuda daerah dengan harapan tidak berhenti pada relasi personal semata, melainkan berkembang menjadi ruang kolaborasi yang saling menguatkan dan memberi sinergitas dalam upaya mewujudkan masyarakat berkeadilan. Dalam konteks ini YPA berperan sebagai ekosistem dan gerakan intelektual anak muda.

Kegelisahan dan ketimpangan yang dibahas dalam ruang YPA bukan persoalan abstrak, melainkan berangkat dari pengalaman hidup nyata di daerah masing-masing. Gorontalo dan Sulawesi Utara, misalnya, merupakan dua provinsi yang memiliki sejarah panjang sebagai satu wilayah administratif sebelum akhirnya mekar dan berdiri sebagai daerah otonom masing-masing.

Namun, pemekaran wilayah tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, khususnya kemiskinan struktural dan ketidakadilan yang menimpah kelompok rentan. Realitas ini memperlihatkan bahwa perubahan administatif tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan sosial yang berkeadilan.

Kondisi tersebut memunculkan kegelisahan personal tentang peran generasi muda sebagai katalisator peradaban dan dinamisator perubahan. Tentu, di tengah ketimpangan yang terus berulang, pertanyaan mendasar pun muncul ; sejauh mana anak muda dapat mengambil peran lebih sekadar menjadi saksi, selain terus melawan ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka?

Jawaban atas kegelisahan ini mulai menemukan bentuk ketika saya perempuan yang bersal dari Sulawesi Utara–Gorontalo, berjumpa dengan Yong Progressive Academy (YPA) Batch 4. Dalam program ini, saya membawa isu strategi yaitu kesetaraan gender, pemenuhan hak korban kekerasan seksual, hak hidup perempuan desa hingga percangan Pengarusutamaan Gender (PUG) yang responsif terhadap perempuan sebagai upaya menurunkan angka kemiskinan.
Proses seleksi YPA berlangsung ketat dan kompetitif.

Dari 139 total pemuda yang mendaftar seluruh Indonesia, hanya 40 peserta yang dinyatakan lulus tahap awal dan berhak mengikuti proses wawancara. Tahap ini kemudian kembali menyaring peserta hingga terpilih 25 pemuda progresif dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka adalah anak muda dengan keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan nyali untuk berpihak pada keadilan.

Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan dan inklusitivas sesuai dengan visi misi dari YPA. Pengalaman para peserta yang datang dari latar belakang sosial, budaya, dan wilayah beragam mempelihatkan betapa kaya sekaligus timpangnya realitas Indonesia. Dari titik inilah YPA hadir bukan sekadar program pelatihan, melainkan ruang aman dan ruang politik anak muda untuk saling berbagi luka struktural serta menyusun gagasan perubahan secara kolektif.

YPA Batch 4 diselenggarakan pada 17–20 Desember 2025 di Jakarta dan dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) hingga Mei 2026. Metode pembelajaran yang digunakan mendorong partisipasi aktif peserta dalam menyuarakan isu-isu daerah, menjadikan pengalaman lokal sebagai dasar analisis persoalan nasional.

Di tengah tantangan demokrasi dan pembagunan yang semakin kompleks, keberadaan Young Progressive Academy menjadi kuat dan semakin relevan ini menunjukkan bahwa pendidikan politik tidak harus etis dan beranjak dari realitas, melainkan dapat tumbuh dari kegelisahan anak muda serta orientasi pada perubahan sosial yang berkeadilan.

Sebagaimana refleksi yang tumbuh dari proses ini, Indonesia seperti tangan yang patah berkali-kali, sangat sulit untuk sembuh, namun sembuh bukan sekadar angan-angan, kita masih berupaya untuk berjuang dengan penuh harapan. Sekali lagi, penuh harapan, dan itu tidak apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *