Kesehatan

Tindakan Bedah Kepala RS Multazam diduga Bermasalah, Pasien Alami Komplikasi Berat hingga Skin Grafting Gagal

×

Tindakan Bedah Kepala RS Multazam diduga Bermasalah, Pasien Alami Komplikasi Berat hingga Skin Grafting Gagal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

TAJUK1.ID – Sebuah tindakan operasi bedah kepala yang semula ditujukan untuk menangani benjolan pascatrauma kini menjadi sorotan serius. Seorang pasien Rumah sakit (RS) Multazam Gorontalo berinisial MID (32) dilaporkan mengalami komplikasi berat berupa perubahan warna kulit pada setengah bagian wajah hingga menghitam, yang mengarah pada kerusakan jaringan serius dan berujung pada rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap.

Peristiwa ini bermula ketika pasien mengalami trauma kapitis tumpul akibat benturan di kepala, yang secara klinis memunculkan benjolan yang diduga sebagai hematoma. Berdasarkan informasi yang diperoleh, pasien kemudian menjalani pemeriksaan medis awal.

Namun, tidak ditemukan keterangan yang jelas mengenai dilakukannya pemeriksaan penunjang standar, seperti CT-Scan kepala, sebelum diputuskan dilakukan tindakan operasi bedah. Padahal, dalam praktik medis, trauma kepala umumnya memerlukan evaluasi radiologis guna memastikan indikasi tindakan invasif.

Operasi tersebut dilakukan oleh dr. Benny Nanda Kurniawan, Sp.B (35). Sebelum tindakan, pasien diberikan anestesi hingga tidak sadarkan diri. Akan tetapi, jenis anestesi, dosis, serta prosedur pemantauan kondisi vital pasien tidak dijelaskan secara rinci dalam informasi medis yang tersedia.

Pasca operasi, kondisi pasien justru menunjukkan temuan yang tidak lazim. Setengah bagian wajah pasien mengalami perubahan warna menjadi kehitaman, suatu kondisi yang secara medis dapat mengarah pada gangguan aliran darah, iskemia, hingga nekrosis jaringan. Temuan ini bukan merupakan efek pasca operasi yang umum atau wajar.

Akibat kondisi tersebut, dilakukan tindakan bedah lanjutan berupa operasi penggantian kulit (skin grafting) dengan mengambil jaringan kulit dari paha pasien. Tindakan ini menandakan bahwa pasien telah mengalami kerusakan jaringan berat pada wajah.

Namun upaya korektif tersebut tidak membuahkan hasil. Skin grafting dilaporkan gagal, ditandai dengan tidak melekatnya kulit cangkok serta berlanjutnya kerusakan jaringan. Kondisi pasien pun memburuk hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit rujukan dengan fasilitas dan tenaga medis yang lebih memadai, termasuk spesialis bedah plastik dan rekonstruksi.

Penting untuk ditegaskan, tidak terdapat keterlibatan pihak korban maupun keluarga dalam pengambilan keputusan medis teknis, termasuk indikasi operasi, jenis tindakan, maupun metode anestesi. Seluruh rangkaian tindakan medis dilakukan berdasarkan keputusan tenaga medis.

Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka dan komprehensif dari pihak Rumah Sakit Multazam mengenai dasar indikasi operasi, prosedur yang dijalankan, serta penyebab pasti terjadinya komplikasi berat pada pasien. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan prinsip kehati-hatian dalam praktik kedokteran.

Kasus ini menjadi pengingat penting akan urgensi transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan ketat terhadap tindakan medis invasif, terutama ketika dampaknya berujung pada cedera serius yang sebelumnya tidak dialami pasien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *