LingkunganPohuwato

Rumah Warga Desa Teratai Pohuwato Terendam Banjir Diduga Akibat Aktivitas PETI

×

Rumah Warga Desa Teratai Pohuwato Terendam Banjir Diduga Akibat Aktivitas PETI

Sebarkan artikel ini

TAJUK1.ID – Banjir kembali merendam permukiman warga Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato. Salah satu rumah yang terdampak parah diketahui milik Sri Mala Bahalulu, yang sejak beberapa bulan terakhir samapi hari ini dipenuhi air bercampur lumpur tebal.

Peristiwa ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai kerusakan lingkungan yang diduga berasal dari aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah itu.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi rumah korban masih kacau. Lantai tertutup lumpur, perabotan berserakan, dan sejumlah barang terlihat rusak akibat rendaman air. Sisa-sisa material seperti pasir, batu kecil, dan pecahan kayu tampak terbawa arus banjir hingga masuk ke ruang tengah rumah.

Banjir yang datang secara tiba-tiba ini mempertegas dugaan bahwa aliran sungai di sekitar Desa Teratai tidak lagi mampu menahan debit air.

Lahan di bagian atas desa yang selama ini disebut menjadi lokasi PETI tampak mengalami perubahan kontur, dengan bukit yang terbuka dan alur air baru yang mengarah langsung ke pemukiman.

Situasi di sekitar rumah Sri Mala menggambarkan betapa rentannya desa tersebut terhadap bencana serupa. Beberapa titik terlihat menunjukkan erosi dan aliran air yang tidak wajar, mengindikasikan adanya kerusakan tutupan lahan dalam skala signifikan.

Hingga hari ini, tidak terlihat upaya penanganan yang signifikan dari pemerintah desa maupun kecamatan. tidak adanya langkah pembersihan maupun penilaian risiko lanjutan, menjadikan kondisi ini memunculkan kesan bahwa penanganan bencana berjalan lambat dan belum terkoordinasi dengan baik.

Banjir yang menimpa Desa Teratai menambah daftar panjang persoalan ekologis yang muncul akibat maraknya aktivitas pertambangan ilegal di Pohuwato. Wilayah ini sebelumnya juga dilaporkan beberapa kali mengalami gangguan lingkungan serupa, mulai dari kekeruhan air sungai hingga longsor kecil di area hulu.

Hingga kini, belum ada informasi pasti mengenai langkah pemerintah daerah dalam menangani dampak banjir maupun penertiban aktivitas PETI di kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *