Tajuk1.id, BOLSEL – Kegiatan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Tolondadu, Kecamatan Molibagu/Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) terus berlangsung tanpa hambatan.
Ironisnya, praktik ilegal ini beroperasi secara terbuka, bahkan dekat dengan instansi pemerintah dan markas kepolisian, namun tak mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum.
Kerusakan lingkungan dan pencemaran sungai akibat penggunaan bahan kimia berbahaya seperti sianida menjadi ancaman nyata bagi kehidupan warga.
Sungai yang selama ini menjadi sumber air bersih, kini terkontaminasi dan membahayakan kesehatan masyarakat.
Aktivis lingkungan, Nandar Suleman, mengkritisi kelambanan berbagai pihak.
“Pemerintah daerah, provinsi, Polres Bolsel, dan Polda Sulut lamban menangani PETI, bahkan terkesan takut atau cuek,” tegasnya. minggu (1/6/25)
Menurut informasi warga, para pelaku PETI tak hanya menggunakan alat berat, tetapi juga diduga menyimpan bahan kimia di gudang tersembunyi dalam wilayah hukum Polres Bolsel. Keberadaan truk-truk pengangkut material tambang yang lalu-lalang pun semakin menambah keresahan.
Meski masyarakat dan elemen mahasiswa sudah menyampaikan laporan dan protes ke pemerintah hingga DPRD, belum ada respons nyata.
Kekecewaan warga pun memuncak, terutama karena khawatir wilayah mereka akan bernasib sama seperti Desa Tobayagan yang rusak parah akibat PETI.
Nandar menekankan pentingnya sikap tegas dari pemerintah. Ia juga mengingatkan bahwa upaya penyelamatan lingkungan selaras dengan visi Presiden.
“APH mendukung Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya poin ke-8 tentang harmonisasi lingkungan, dengan memberantas PETI yang merusak alam,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketegasan aparat menjadi kunci untuk melindungi rakyat.
“Pemerintah dan APH harus tegas menutup PETI, mengutamakan perlindungan lingkungan dan kesehatan warga, serta mencegah eksploitasi ilegal yang merugikan masyarakat,” katanya.
Nandar menyerukan solidaritas saat hukum dikhianati, rakyat akan menemukan jalannya sendiri.












