TAJUK1.ID – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Bulangita, Kabupaten Pohuwato, kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Di tengah sorotan publik dan klaim penertiban aparat, suara mesin dan lalu lalang truk justru menjadi penanda bahwa praktik ilegal itu belum benar-benar berhenti.
Pantauan warga, kendaraan berat hilir mudik hampir setiap hari melintasi jalan desa. Dampaknya terlihat jelas: badan jalan yang sebelumnya menjadi akses utama masyarakat kini rusak parah. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur bercampur air, menyulitkan mobilitas warga, termasuk anak sekolah dan petani.
“Kalau hujan, jalan sudah seperti sungai kecil. Kami harus ekstra hati-hati karena licin dan dalam,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Tak hanya infrastruktur, kerusakan lingkungan juga semakin nyata. Sungai di sekitar lokasi tambang tampak keruh, dipenuhi sedimentasi akibat aktivitas pengerukan tanah. Pendangkalan aliran air disebut warga semakin memperbesar risiko banjir, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Kondisi ini memunculkan kecemasan yang terus menghantui masyarakat. Mereka menilai kerugian bukan hanya bersifat ekonomi, tetapi juga menyangkut keselamatan dan masa depan lingkungan desa.
Di sisi lain, upaya penertiban yang pernah dilakukan oleh unsur Forkopimda dan aparat penegak hukum justru menyisakan tanda tanya. Banyak warga menilai tindakan tersebut tidak memberikan efek jera.
“Penertiban itu seperti hanya seremonial. Setelah aparat pergi, aktivitas tambang kembali berjalan,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Situasi ini memunculkan persepsi di tengah warga bahwa para pelaku PETI seolah kebal hukum. Mereka berharap ada langkah penegakan hukum yang tegas, konsisten, dan berkelanjutan, bukan sekadar operasi sesaat yang tidak menyentuh akar persoalan.
Bagi masyarakat Bulangita, persoalan PETI bukan lagi sekadar isu penambangan ilegal, melainkan ancaman nyata terhadap ruang hidup merekadari jalan desa yang hancur, sungai yang tercemar, hingga bayang-bayang bencana banjir yang kian dekat.












