LingkunganPohuwato

Pantauan Drone Perkuat Dugaan PETI Jadi Sumber Kerusakan Lingkungan

×

Pantauan Drone Perkuat Dugaan PETI Jadi Sumber Kerusakan Lingkungan

Sebarkan artikel ini

TAJUK1.ID – Suara air Sungai Hulawa terdengar tenang saat melintas di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia. Namun ketenangan itu menipu, sebab di bagian hulunya, alam menyimpan bekas luka yang belum sembuh.

Kubangan-kubangan raksasa berisi air keruh, tanah terkelupas, serta sisa-sisa aktivitas pertambangan emas tanpa izin menjadi pemandangan yang disaksikan langsung Kaolda Gorontalo Irjen Pol Widodo, Selasa (13/1/2025).

Kehadiran Kapolda di lokasi bukan sekadar kunjungan seremonial. Dari bibir sungai, ia menatap langsung jejak kehancuran lingkungan yang selama ini hanya terdengar lewat keluhan warga.

Air sungai yang semestinya jernih kini berubah membawa endapan lumpur ke wilayah hilir, tempat masyarakat menggantungkan hidup dari alam yang sama.

“Dalam kondisi seperti ini, dampaknya tidak berhenti pada lingkungan, tetapi juga menyentuh kesehatan masyarakat,” ujar Kapolda di sela peninjauan.

Ia menegaskan, pertambangan emas ilegal bukan hanya persoalan pelanggaran hukum. Lubang-lubang bekas galian menyimpan ancaman banjir di musim hujan dan penyakit di saat kemarau.

“Genangan air ini berpotensi memicu malaria dan demam berdarah. Yang merasakan akibatnya adalah masyarakat di wilayah bawah,” kata Irjen Pol Widodo.

Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, Kapolda menilai banjir bandang yang sempat melanda Pohuwato berakar dari aktivitas PETI di kawasan hulu.

“Dari pola alirannya saja, kita bisa membaca asal mula persoalannya,” ujarnya.

Tak jauh dari titik peninjauan, pantauan udara menggunakan drone memperlihatkan tenda-tenda penambang yang masih berdiri di beberapa lokasi.

Jejak alat berat juga terdeteksi di area-area yang sulit dijangkau dari jalur darat, menandakan aktivitas tambang belum sepenuhnya berhenti

“Kalau dilihat dari udara, semuanya tampak jelas. Mana yang masih beroperasi, mana yang sudah ditinggalkan,” tutur Kapolda.

Ia kemudian mengajak masyarakat Pohuwato untuk menempuh jalan penghidupan yang lebih aman dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan alam.
Menurutnya, kerusakan lingkungan bukan perkara yang bisa dipulihkan dalam waktu singkat.

“Ketika alam sudah rusak, upaya mengembalikannya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Karena itu, mari kita jaga bersama,” ucapnya.

Kapolda Gorontalo memastikan Polda Gorontalo akan melanjutkan pemetaan serta evaluasi penertiban tambang emas ilegal yang selama ini telah berjalan.

Langkah tersebut meliputi penguatan pola penindakan, evaluasi keterlibatan personel, hingga kesiapan dukungan anggaran.

Ke depan, Polda Gorontalo juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai instansi terkait, termasuk Satgas Penanganan Pertambangan Ilegal di tingkat pusat.

“Jika diperlukan, semua pihak akan kita libatkan agar persoalan ini ditangani secara menyeluruh,” tegas Kapolda.

Di tepi Sungai Hulawa, pesan itu kembali mengemuka: kerusakan alam hari ini adalah persoalan panjang bagi generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *