Opini

Mengembalikan Denyut Gotong Royong di Tulabolo: Menanam Kacang, Menanam Masa Depan

×

Mengembalikan Denyut Gotong Royong di Tulabolo: Menanam Kacang, Menanam Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Noval Lahmudin

Tajuk1.id, – Di tanah Tulabolo, sejarah pernah mengajarkan kita bahwa hidup tidak hanya diukur dari berapa banyak yang kita punya, tetapi dari seberapa kokoh kita menjaga warisan. Leluhur kita pernah berkata, “Ta totoluwo, ta podungalo”, kita bertumbuh karena saling menopang.

Gotong royong menanam kacang bukan sekadar rutinitas bertani ia adalah napas kebudayaan kita.

Namun kini, semangat itu mulai pudar. Mesin dan pasar sering kali menggantikan obrolan di pematang sawah. Kita mulai jarang melihat deretan tangan yang sama-sama menggarap tanah, sambil bercakap tentang musim, hujan, dan nasib anak cucu.

Padahal, di setiap biji kacang yang kita tanam, tersimpan doa yang sama: ketahanan pangan yang lestari, kemandirian desa yang tegak, dan hubungan manusia dengan tanah yang tidak tercerabut.

Menanam kacang di Tulabolo seharusnya kita maknai sebagai upaya merawat tiga hal sekaligus. Pertama, kelestarian alam, karena kacang adalah tanaman yang mengikat nitrogen, memperbaiki kesuburan tanah, dan menjaga siklus hidup sawah dan ladang.

Kedua, kelestarian budaya, sebab menanam bersama adalah ekspresi persaudaraan yang diwariskan leluhur. Dan ketiga, ketahanan pangan, yang kini menjadi program strategis pemerintah, namun akan kehilangan ruh jika tidak dibangun di atas pondasi nilai-nilai lokal.

Gotong royong bukan sekadar metode kerja ia adalah cara hidup. Di Tulabolo, ia berarti semua orang adalah pemilik dari panen yang akan datang, walau hasilnya dibagi sesuai jerih payah. Ia berarti kerja bukan demi uang semata, tapi demi mengikat kembali jaring sosial yang mulai robek.

Kita bisa saja membiarkan mesin dan modal asing mengambil alih, tapi itu berarti kita rela mengubur kearifan yang telah menjaga kita berabad-abad. Menanam kacang bersama adalah cara kita mengatakan kita masih punya kendali atas tanah kita, atas makanan kita, atas masa depan kita.

Mari kita kembali ke pematang sawah dengan cangkul di tangan, bukan sekadar untuk menanam, tapi untuk membangun kembali jaringan persaudaraan yang mulai renggang.

Mari kita hidupkan lagi tawa di sela istirahat kerja, cerita lama di bawah pohon, dan keyakinan bahwa jika tanah ini kita jaga, tanah ini akan menjaga kita.

Karena di Tulabolo, setiap biji kacang yang tumbuh adalah bukti bahwa kita belum lupa siapa kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *