Tajuk1.id, Pohuwato – Kejahatan lingkungan di Desa Balayo, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato, mendapat sorot aktivis Gorontalo Rizal Agu. Rabu (02/04/25)
Rizal Agu menilai, pertambang emas tanpa izin (PETI) kini mencapai titik paling brutal. Merajalela tak hanya menghancurkan alam, tetapi juga menodai martabat kemanusiaan. Kuburan-kuburan digusur, tanah leluhur diobrak-abrik demi kilauan emas ilegal.
“ini sebuah pemandangan yang lebih mirip adegan distopia ketimbang realitas, ekskavator mengaduk-aduk tanah pekuburan, mengabaikan jeritan batin keluarga yang leluhurnya kini tak lagi punya tempat peristirahatan terakhir”, ujarnya dengan nada ketus.

Amukan eksafator tambang, menjadi saksi bisu kerakusan manusia yang menggantikan nilai kemanusiaan dengan bongkahan logam mulia, tambahnya.
lanjut Rizal, Ironisnya, aparat kepolisian hingga kini seolah menutup mata. Tak ada tindakan tegas, tak ada penegakan hukum. Kejahatan ini terus berlanjut, seakan hukum tak memiliki taring di hadapan kepentingan ekonomi hitam yang menggurita.
“Kita tidak lagi berbicara soal kerusakan lingkungan semata. Ini adalah soal penghancuran nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar. Ketika kuburan saja tidak lagi dihormati, lalu apalagi yang tersisa dari moral kita?” tukasnya.
Kasus ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan aparat penegak hukum. Jika kuburan saja tak lagi suci, bagaimana bisa kita berharap keadilan tetap tegak di negeri ini?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait lambannya penindakan atas tambang ilegal yang semakin menjadi-jadi di Pohuwato. Sementara itu, mesin-mesin pengeruk terus beroperasi, menggilas sejarah dan kemanusiaan dalam diam.












