Tajuk1.id, Gorontalo — Aksi demonstrasi Jilid 4 pecah di depan Polda Gorontalo. Kevin Lapendos, Koordinator Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Gorontalo, melontarkan tantangan terbuka kepada Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) untuk turun langsung ke lapangan menyelidiki dugaan penyelundupan batu hitam ilegal. Rabu 14 Mei 2025
Dalam orasinya, Kevin menyebut adanya tiga truk bermuatan batu hitam yang kini tertahan di Pelabuhan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, diduga hendak dikirim secara gelap menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Kevin mengungkapkan bahwa terinformasi, salah satu ketua LSM sedang berusaha menggagalkan pengiriman barang tersebut dan aktif memantau situasi di area tersebut. Namun meskipun sudah di sampaikan dalam orasi, pihak Polda Gorontalo hingga kini memilih diam.
“Informasi ini bukan isu liar. Kami dapat laporan valid dari lapangan bahwa ada tiga truk batu hitam tertahan di Pelabuhan Anggrek, dan diduga kuat akan dikirim ke Pelabuhan Tanjung Priok. Salah satu ketua LSM sedang berupaya menghentikan pengiriman ilegal ini,” ujar Kevin.
Tidak berhenti di situ, Kevin juga membeberkan fakta mengejutkan bahwa pihaknya telah mengantongi 8 inisial nama yang terlibat dalam jaringan penyelundupan batu hitam ilegal. Nama-nama ini, menurut Kevin, sudah diketahui oleh aliansi dan diduga kuat terlibat dalam bisnis ilegal batu hitam, yang merugikan negara dan merusak lingkungan.
“Kami tidak main-main. Delapan inisial sudah di tangan. Jika Polda dan Dirkrimsus punya nyali, saya tantang turun sekarang juga ke Pelabuhan Anggrek dan usut siapa di balik semua ini!” tegas Kevin Lapendos.
Namun, meskipun tantangan tersebut dilontarkan di hadapan massa, Polda Gorontalo tetap bungkam. Kevin dan para massa aksi mengkritik keras sikap aparat yang mereka nilai tidak tanggap terhadap laporan dan informasi yang sudah disampaikan.
“Kami di sini bukan untuk main-main. Jika Polda Gorontalo terus diam, kami akan hadir lagi dengan massa yang lebih besar dan membuka semua nama-nama lengkap para pelaku yang terlibat ke publik !” ancam Kevin.
Namun yang lebih memprihatinkan, Kevin juga menyampaikan bahwa belakangan ini mulai bermunculan intimidasi terhadap para aktivis yang mencoba membuka suara soal tambang ilegal. Ia menegaskan bahwa upaya menekan masyarakat sipil hanya akan memperburuk citra penegakan hukum.
“Saya ingin tegaskan di sini. Beberapa rekan aktivis kami mulai mengalami intimidasi dan teror dari oknum tak dikenal. Saya khawatir, setelah menyampaikan informasi ini ke publik, saya pun bisa mengalami hal yang sama,” kata Kevin dengan nada serius.
Dirinya pun berharap kepada Kapolda Gorontalo dan Dirkrimsus agar mendengar dan melihat serius dan segera mengambil langkah tegas mengenai apa yang saat ini tengah disuarakan oleh mahasiswa dan pemuda.
“Saya hanya ingin menyampaikan informasi yang seharusnya dijadikan dasar penyelidikan. Saya harap Kapolda dan Dirkrimsus tidak hanya diam, tapi juga turun langsung, dan pastikan tidak ada pembiaran terhadap intimidasi terhadap aktivis,” tutupnya.












