Tajuk1.id, Gorontalo – Arah Langkah Anak Muda (ALAM) kembali menghadirkan ruang dialog kritis melalui diskusi publik bertema “Generasi Muda di Persimpangan: Antara Gelar, Skill dan Nilai Kemanusiaan.” Salah satu sorotan utama dalam forum ini datang dari narasumber Sisiana Tuamaji, Wasekum Kohati PB HMI, yang membahas tema tersebut dalam perspektif “Krisis Makna: Apakah Pendidikan Masih Mendidik?”
Dalam penjelasannya, Sisiana mengajak peserta untuk melihat realitas pendidikan hari ini dengan kaca mata yang lebih jernih dan bernyali. Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan modern cenderung mengalami pergeseran fungsi: dari rumah tumbuhnya manusia menjadi sebuah pabrik tempat para siswa dan mahasiswa diperlakukan layaknya produk yang harus memenuhi standar pasar.
“Sekolah dan universitas tidak jarang berubah menjadi pasar industri. Semua diukur dengan angka, gelar, dan sertifikasi. Jika kita tidak kritis, kita akan terjerat dalam arus besar yang hanya mencetak tenaga kerja, bukan manusia yang berpikir,” ungkapnya.
Sisiana menegaskan bahwa generasi muda harus berdaya sebagai individu yang cerdas dan kritis, bukan sekadar penerima informasi pasif. Dalam pandangannya, pencarian jati diri sebagai manusia seutuhnya tidak cukup hanya mengandalkan ruang kampus. Ia menawarkan formula yang ia sebut sebagai ‘moto kualitas kehidupan’, yaitu 40% ditemukan di dalam kampus, dan 60% diperoleh dari pengalaman di luar kampus.
“Pendidikan sejati tidak berhenti pada bangku kuliah. Dunia luar adalah laboratorium besar yang mengajarkan nilai hidup, empati, keberanian, dan kebijaksanaan. Di situlah 60% pendidikan manusia terbentuk,” jelas Sisiana.
Diskusi yang dihadiri oleh berbagai elemen pemuda ini ditutup dengan pernyataan reflektif dari Sisiana Tuamaji. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah perlombaan mengumpulkan fakta atau sertifikat, melainkan perjalanan menyalakan api dalam diri manusia.
“Tujuan pendidikan bukanlah meraih fakta, namun menyalakan api semangat perjuangan. Tujuan tertinggi dari pendidikan adalah memanusiakan manusia,” tutupnya dengan penuh penekanan.
Melalui forum ini, ALAM kembali menegaskan pentingnya mengembalikan arah pendidikan pada fitrah kemanusiaannya. Di tengah tekanan kompetisi dan tuntutan zaman, diskusi ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menemukan kembali makna, nilai, dan jati diri yang sejati.












