Headline

ERACS Dibatalkan Sepihak, Profesionalisme RS Toto Kabila Dipertanyakan

×

ERACS Dibatalkan Sepihak, Profesionalisme RS Toto Kabila Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
Foto : Zulfikar Mokoagow
Foto : Zulfikar Mokoagow

TAJUK1.ID – dari layanan kesehatan publik. Seorang dokter di RS Toto Kabila, Kabupaten Bone Bolango, dinilai telah mengabaikan prinsip transparansi dan persetujuan tindakan medis setelah metode persalinan Enhanced Recovery After Caesarean Section (ERACS) yang telah disepakati sejak awal. tiba-tiba batal dilakukan tanpa pemberitahuan kepada keluarga pasien.

Alih-alih ERACS, pihak rumah sakit justru menjalankan operasi caesar konvensional. Kasus ini diungkap oleh suami pasien, Zulfikar Mokoagow, yang menuturkan bahwa istrinya dirujuk ke RS Toto Kabila dengan indikasi medis yang jelas.

Dokter kandungan sebelumnya yaitu Toni Doda menyampaikan bahwa persalinan normal berisiko tinggi lantaran kondisi panggul pasien yang kecil serta posisi bayi sungsang di dalam kandungan. Atas dasar pertimbangan medis tersebut, keluarga kemudian memilih metode ERACS dan menyampaikan keputusan itu sejak proses pendaftaran rumah sakit.

“Sejak awal kami sudah tegas memilih ERACS. Itu kami sampaikan saat pendaftaran, bukan mendadak. Tapi anehnya, setelah operasi selesai, baru saya diberi tahu kalau yang dilakukan ternyata bukan ERACS, melainkan operasi sesar biasa,” ujar Zulfikar kepada wartawan, Jumat (9/1/26).

Menurut Zulfikar, tidak ada satu pun pemberitahuan resmi dari dokter maupun pihak rumah sakit sebelum tindakan operasi dilakukan bahwa metode persalinan akan diubah. Ia menilai perubahan sepihak tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap hak pasien dan keluarga dalam menentukan tindakan medis yang telah disepakati bersama.

Masalah lain muncul menjelang pelaksanaan operasi. Zulfikar mengaku sempat didatangi petugas administrasi rumah sakit yang menyampaikan bahwa metode ERACS tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Pihak rumah sakit, kata dia, kemudian meminta biaya tambahan sebesar Rp1,7 juta apabila keluarga tetap menginginkan ERACS.

“Saya bilang tidak masalah, saya siap bayar. Tapi saya minta kwitansi resmi sebagai bukti pembayaran. Namun permintaan sederhana itu justru tidak dipenuhi. Pihak rumah sakit menolak memberikan kwitansi. Itu yang membuat saya semakin heran dan curiga,” ungkapnya.

Ia menegaskan, hingga operasi dilakukan, tidak pernah ada dokumen persetujuan yang ia tanda tangani terkait perubahan metode persalinan dari ERACS ke caesar biasa. Satu-satunya dokumen yang ditandatangani, menurut Zulfikar, hanyalah persetujuan tindakan anestesi, bukan persetujuan perubahan metode operasi.

“Kalau memang ada perubahan tindakan medis, seharusnya ada penjelasan dan persetujuan tertulis dari keluarga. Tapi itu tidak pernah terjadi,” tegasnya.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius tentang standar pelayanan, etika medis, serta akuntabilitas administrasi di rumah sakit milik daerah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen RS Toto Kabila maupun dokter yang menangani pasien terkait alasan perubahan metode persalinan tanpa pemberitahuan kepada keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *