Kriminal

Diburu di Jalan Sunyi: Hidayat Musa Jadi Korban Penganiayaan Brutal di Kota Gorontalo

×

Diburu di Jalan Sunyi: Hidayat Musa Jadi Korban Penganiayaan Brutal di Kota Gorontalo

Sebarkan artikel ini
oppo_2

Tajuk1.id, Gorontalo, 27 April 2025 — Minggu malam yang seharusnya menjadi ruang beristirahat dan bersenda gurau bagi warga, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Hidayat Musa.

Sekitar pukul 21.45 WITA, di jalanan lengang Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Hidayat mengalami peristiwa yang mengguncang batas nalar: dibuntuti, diteror, lalu diserang hingga hampir tersungkur dari motornya.

Saat itu Hidayat tengah melaju tenang di atas motornya, menembus udara malam yang lembab, ketika sejumlah pengendara motor identitas tdak di kenal, mulai membuntutinya dalam bayang-bayang gelap.

Salah satu pelaku mendekat dari sisi kiri, berboncengan dalam satu motor merek NMAX, menendang motornya Hidayat dengan keras, sampai wajahnya luka terkena pecahan kaca helem, membuat kendaraannya oleng dan hampir dan seketika membuatnya hampir tersungkur.

Dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, Hidayat berhasil mempertahankan keseimbangannya. Namun luka di wajahnya menjadi bukti bisu atas kekerasan yang dialaminya.

Para pelaku, bersama gerombolan motor lain yang diduga kuat merupakan komplotan mereka, dengan cepat menghilang menembus kelamnya lorong-lorong Kota Gorontalo, seolah hanyut dalam budaya kekerasan yang kerap luput dari radar penegakan hukum.

Kini, dengan luka fisik dan trauma yang membekas, Hidayat Musa tengah melaporkan kejadian tersebut di Mapolresta Gorontalo Kota.

Langkah ini bukan hanya mencari keadilan untuk dirinya sendiri, tapi juga menjadi cermin retak bagi wajah kota ini, kota yang kerap berbicara tentang adat dan persaudaraan, namun di sudut-sudutnya, kekerasan jalanan masih merayap seperti bayang-bayang panjang di bawah lampu redup.

Peristiwa ini memperlihatkan betapa ruang publik kita, bahkan jalanan malam di tengah kota, tak sepenuhnya aman dari ancaman kekerasan. Ada pertanyaan yang menggantung di udara malam Gorontalo: sampai kapan kekerasan jalanan dibiarkan menjadi bagian dari denyut nadi kota ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *