Tajuk1.id, Kota Gorontalo – Tumpukan sampah yang terdapat di Jalan Sawit, Kelurahan Tuladenggi, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, kembali menjadi sorotan warga. Hingga pekan kedua Mei 2025, tak ada tanda-tanda keseriusan dari pemerintah kota untuk menuntaskan masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini.
Aroma busuk menyengat menyeruak setiap kali warga melintas di sepanjang jalan yang seharusnya menjadi jalur aktivitas ekonomi dan sosial. Alih-alih bersih dan tertata, Jalan Sawit kini menjadi “tempat pembuangan akhir tak resmi” yang perlahan mengikis rasa nyaman dan martabat lingkungan sekitar.
“Setiap hari kami harus tahan napas. Sampah makin banyak, baunya makin menusuk. Tidak ada tindakan tegas, hanya janji-janji,” kata Arif, warga Tuladenggi, Selasa (13/5), dengan nada kecewa.
Dalam keterangannya, Arif menuturkan, armada sampah seirng beroprasi melitasi jalan tersebut, dan jarak tumpukan ini berjarak puluhan meter dari kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Gorontalo.
Bau tak sedap bukan satu-satunya masalah. Saat hujan turun, genangan air bercampur limbah rumah tangga menimblkan bau busuk. Situasi ini bukan hanya mengganggu, tapi juga mengancam kesehatan masyarakat.
Nyamuk berkembang biak, udara menjadi pengap, dan warga harus hidup berdampingan dengan bau sampah seolah ini adalah bagian dari keseharian yang harus diterima.
Padahal, isu lingkungan dan tata kelola persampahan bukan hal baru di Gorontalo. Berulang kali pemerintah kota menjanjikan solusi sistemik. Mulai dari pengadaan armada pengangkut, penataan TPS terpadu, hingga kolaborasi dengan masyarakat melalui program bank sampah. Namun, realisasinya masih jauh dari harapan.
“Sampah ini simbol ketidakpedulian yang dilembagakan,” ucap Arif dengam nada ketus.
Warga Tuladenggi tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin hak dasar atas lingkungan yang bersih dan sehat, sebagaimana dijamin dalam konstitusi dan janji-janji pembangunan kota yang berkelanjutan.
“Kami ingin dilihat, didengar, dan dijadikan bagian dari solusi,” Tambahnya.
Warga menanti bukan hanya pengangkutan sampah, tapi perombakan sistem pengelolaan lingkungan yang berpihak pada rakyat kecil.












