Penis : Nur Vinasari, Aktivis Perempuan Gorontalo (Ketua PKC GMNI Kota Gorontalo)
Tajuk1.id Opini – Hari Kartini bukan semata seremoni penuh bunga dan kebaya. Bukan pula sekadar parade nostalgia tentang perempuan masa lampau.
Hari Kartini adalah undangan sebuah panggilan batin untuk merenung: sejauh apa kita, perempuan Indonesia, mewujudkan dunia yang diperjuangkan Kartini lebih dari seabad yang lalu?
Raden Adjeng Kartini (1879–1904) bukan hanya nama dalam buku sejarah. Ia adalah suluh yang mengoyak gelap panjang feodalisme dan diskriminasi.
Dengan gagah, Kartini membuka ruang bagi perempuan untuk berpikir, bermimpi, dan bertindak.
Melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis tentang hak untuk belajar, tentang martabat perempuan, dan tentang dunia yang seharusnya lebih adil.
Namun, di bawah langit Indonesia hari ini, perempuan masih bergulat dengan tantangan yang tak jauh berbeda. Ekspektasi sosial tetap membelenggu cara perempuan berpakaian, berbicara, hingga menentukan kapan ia “sebaiknya” menikah.
Representasi politik perempuan masih jauh dari memadai. Di dunia kerja, kesenjangan upah dan kesempatan masih menjadi luka yang menganga.
Bahkan di ruang rumah tangga, pertukaran peran seperti ayah menjadi stay-at-home dad masih kerap dipandang aneh, padahal seharusnya biasa saja: selama cinta dan kesepakatan yang bertumbuh di antara semua pihak.
Mewarisi semangat Kartini tidak selalu berarti turun ke jalan atau menulis manifesto besar. Kadang, justru soal hal-hal kecil.
Menciptakan ruang aman untuk perempuan bertumbuh, mendukung sahabat yang memilih jalannya sendiri, atau mendobrak satu norma patriarkal di lingkungan terkecil.
Sebab empowerment bukan selalu soal panggung; ia tentang siapa yang kita ajak berjalan bersama.
Kartini telah menggoreskan jejak awal bagi perempuan untuk berpikir, belajar, dan berjuang.
Kini, tugas kita adalah menjaga nyala itu tetap hidup—membumikan nilai keadilan sosial yang diamanatkan oleh UUD 1945, dan menghadirkan keberdayaan dalam setiap ruang kehidupan: di rumah, di sekolah, di jalanan, di kantor, di dunia digital.
Perempuan masa kini harus berani: berani bersuara, berani bermimpi, berani menuntut hak tanpa perlu meminta izin, dan berani mencipta ruang-ruang baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Dunia ini butuh lebih banyak perempuan yang tidak hanya berlari mengejar mimpinya, tapi juga membuka jalan bagi perempuan lain untuk ikut berlari.
Semangat juang Kartini adalah api abadi. Kegigihannya adalah kisah yang tak boleh kita biarkan memudar.
Ketidakadilan yang dulu mencekik perempuan di zamannya adalah luka yang harus kita pastikan tak pernah lagi terulang di zaman ini.
Maka, jangan sekadar mengenang Kartini—hidupkan dia dalam diri kita. Jadilah Kartini bagi zamanmu. Jadilah Kartini bagi dunia yang lebih adil.












