Penulis : Fadel Hulalango (Aktivis, Pemuda Bolaang Mongondow Utara)
Tajuk1.id, Opini – Dalam narasi besar pembangunan daerah, pemuda bukan sekadar entitas usia muda. Mereka adalah energi sosial, denyut perubahan, dan bahkan kadang kala menjadi pengganggu status quo yang membatu.
Di tanah Bolaang Mongondow Utara (BOLMUT), sejarah telah cukup bicara bahwa perubahan tidak lahir dari diam—ia muncul dari keberanian bertanya, menyuarakan, dan bertindak.
Kini, KNPI BOLMUT bukan sekadar organisasi; ia adalah wadah sekaligus cermin. Sebagai rumah besar pemuda, ia harus lebih dari seremonial. Ia mesti menjadi ruang artikulatif, tempat di mana gagasan-gagasan berkemajuan ditumbuhkan, dikritisi, dan diejawantahkan menjadi aksi sosial.
Harapan saya sebagai bagian dari generasi muda BOLMUT, bukanlah mimpi kosong yang digantungkan pada langit-langit rapat organisasi, melainkan panggilan batin agar KNPI tampil sebagai lokomotif perubahan sosial.
Pemuda BOLMUT perlu menyadari satu hal penting: daerah ini tidak akan bertumbuh hanya dengan sumber daya alamnya, tapi oleh kualitas sumber daya manusianya—dan pemuda adalah inti dari itu semua.
Maka, harapan itu berwujud dalam kerja nyata: mendobrak cara berpikir lama yang pragmatis dan menggantinya dengan laku progresif. Bukan reaktif, tapi reflektif. Bukan hanya aktif dalam struktur, tetapi juga kritis dalam narasi dan praksis.
KNPI harus menjadi laboratorium ide dan gerakan. Di sinilah diperlukan pemimpin-pemimpin muda yang bukan hanya cakap orasi, tapi juga piawai membaca peta sosial BOLMUT memahami dinamika desa-kota, relasi kuasa, ketimpangan pembangunan, dan juga kegelisahan kultural yang terpinggirkan.
Pemuda BOLMUT yang berkemajuan adalah mereka yang tak segan turun ke kampung-kampung, mendengar langsung denyut nadi masyarakat, dan menerjemahkannya dalam program-program yang membumi.
Mereka membicarakan digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi sebagai alat untuk membuka isolasi informasi. Mereka menggagas pertanian cerdas bukan untuk gaya, tapi sebagai solusi konkret atas stagnasi ekonomi lokal.
Sudah saatnya kita, para pemuda BOLMUT, berhenti menjadi penonton dalam panggung pembangunan. KNPI bukan tempat untuk mencari legitimasi sosial semata, tetapi medan tempur untuk menguji ketulusan dan keberanian kita.
Harapan saya bukan semata pada siapa yang memimpin KNPI, tetapi pada bagaimana kepemimpinan itu dijalankan—secara kolaboratif, terbuka, dan berorientasi pada hasil yang menyentuh masyarakat paling bawah.
BOLMUT butuh pemuda yang tak hanya bertanya “apa yang saya dapat?” tetapi lebih berani bertanya “apa yang bisa saya beri?”. Jika pertanyaan ini bisa dijawab dengan jujur oleh setiap anak muda BOLMUT, maka saya percaya, masa depan daerah ini akan jauh lebih terang daripada hari ini.
Karena pada akhirnya, perubahan tak akan pernah datang dari luar jika tidak dimulai dari dalam. Dan KNPI, dengan segala potensinya, bisa menjadi nyala awal dari obor panjang perubahan itu.












