Opini

Kartini dan Lentera yang Tak Pernah Padam: Suara Sunyi yang Menggema di Abad Ini

×

Kartini dan Lentera yang Tak Pernah Padam: Suara Sunyi yang Menggema di Abad Ini

Sebarkan artikel ini

Penulis : Mega Anastasya Mokoginta

Takuk1.id, Opini – Bangsa ini kembali membuka lembar kenangan tentang seorang perempuan dari Jepara yang lahir lebih dari satu abad silam. Namun gaungnya, entah bagaimana, masih berdenting dalam benak kolektif kita seperti mantra yang tak pernah usang.

Raden Ajeng Kartini: bukan sekadar nama, bukan sekadar ikon, tapi jiwa yang hidup dalam surat-suratnya, dalam cahaya yang ia nyalakan dari ruang-ruang pingitan dan sunyi.

Kartini lahir dalam tubuh budaya yang memelihara hierarki dan ketundukan. Mayong, 1879 desa kecil di Jawa yang membesarkannya dalam pagar bangsawan dan patriarki.

Tapi justru dari ruang yang membatasi itulah, ia menjalin narasi perlawanan. Kartini tidak berteriak. Ia menulis. Dan tulisannya adalah lompatan sunyi menuju kesadaran: bahwa perempuan bukan ciptaan sekunder, bukan hiasan rumah tangga, melainkan manusia seutuhnya.

Lewat Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menyalakan api. Bukan api yang membakar, tapi yang menghangatkan nalar dan menuntun langkah-langkah kecil menuju kebebasan berpikir. Baginya, pendidikan bukan hak istimewa; ia adalah napas yang tak bisa ditawar.

Ketika perempuan dikurung oleh adat, dikunci oleh norma, maka bukan hanya tubuh mereka yang terpenjara tetapi juga gagasan, potensi, dan harapan.

Seabad lebih telah berlalu sejak Kartini menulis pada sahabat-sahabat Eropanya, dan dunia telah berubah. Emansipasi tak lagi semata slogan yang dipajang di spanduk perayaan.

Ia telah menjelma menjadi gerakan konkret: di kelas pendidikan desa, di ruang aman bagi korban kekerasan, di meja kebijakan publik yang kini mulai dihuni perempuan. Ia hadir di komunitas, NGO, dan kerja-kerja diam-diam yang mengubah nasib dari akar rumput.

Namun kita pun tahu: perjuangan belum usai. Struktur sosial masih menyisakan warisan ketimpangan. Narasi lama tentang peran perempuan masih dipelihara oleh stigma dan media.

Ruang-ruang publik meski tampak terbuka masih membisikkan bias dari balik meja, dari dalam sistem yang enggan berubah.

Hari Kartini bukanlah perayaan bunga dan kebaya semata. Ia seharusnya menjadi momen untuk berkaca, untuk menimbang sejauh mana kita sudah berjalan dan sejauh apa kita masih harus melangkah.

Kartini hari ini bukan hanya mereka yang tampil di panggung atau masuk dalam daftar tokoh. Kartini hari ini adalah para perempuan yang bergulat di akar: di ladang, di kelas kecil, di posko komunitas, di balik hotline pengaduan.

Mereka tak selalu disebut dalam berita. Tapi merekalah yang menjaga lentera itu tetap menyala.

Kartini pernah menulis, “Cita-cita itu ialah memperindah martabat manusia, memuliakanmu, mendekatkan pada kesempurnaan.” Dan benar, perjuangan ini bukan tentang merebut tampuk kuasa, bukan pula menyaingi laki-laki. Ini tentang memanusiakan manusia.

Dan dari gelap yang panjang, terang itu tidak hanya pernah terbit ia masih menyala, menyinari generasi yang berjalan perlahan menuju kesetaraan yang hakiki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *