Opini

Anak Muda Sebagai Sektor Perubahan Maritim Berkelanjutan

×

Anak Muda Sebagai Sektor Perubahan Maritim Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

Penulis : Syaidah, Calon Duta Maritim Indonesia Perwakilan Provinsi Gorontalo

TAJUK1.ID – Laut tak pernah benar-benar tenang. Ia bergelora, beriak, dan dalam tiap riaknya, tersimpan harapan, keresahan, dan pertaruhan yang tak pernah sederhana.

Indonesia bukan hanya negeri yang terletak di antara dua benua dan dua samudra. Ia adalah tanah air yang dijahit oleh laut. Dengan luas perairan mencapai 3,25 juta kilometer persegi, kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia.

Tapi yang kita miliki bukan sekadar bentang air yang luas melainkan ruang hidup yang kaya. Sangat kaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, lebih dari 70% spesies karang dunia ada di sini. Terdapat 2.500 jenis ikan, dan nilai potensi ekonominya bisa menyentuh Rp1.772 triliun setiap tahun.

Namun, kekayaan itu belum serta-merta menjelma menjadi kesejahteraan.

Di balik gelombang itu, masih banyak nelayan kecil yang terjebak dalam kemiskinan struktural. Laut yang seharusnya menjadi ruang hidup bersama, justru rusak oleh kerakusan dan abai.

LIPI mencatat, hanya 6,39% terumbu karang yang masih berada dalam kondisi sangat baik. Sisanya? Tertekan oleh sampah, penangkapan berlebih, dan ambisi reklamasi.

Dan inilah ironi terbesar kita: laut, yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini menjadi tong sampah terakhir dunia. Indonesia, menyedihkan tapi nyata, tercatat sebagai penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok.

Lalu pertanyaannya: sampai kapan kita akan terus begini?

Di tengah data yang menggelisahkan, muncul secercah cahaya dari arah yang tak selalu kita duga: anak-anak muda. Bukan mereka yang hanya menikmati senja di pinggir pantai untuk unggahan media sosial, tapi mereka yang menyelam, melihat krisis dari dekat, lalu kembali ke permukaan membawa harapan.

Generasi muda kini bukan sekadar pewaris masa depan mereka adalah penjaga masa kini.

Lihat bagaimana Divers Clean Action lahir. Sebuah gerakan anak muda yang turun langsung membersihkan laut dari sampah plastik.

Atau Aruna Indonesia, startup digital kelautan yang dirintis oleh anak muda dan telah membantu meningkatkan penghasilan nelayan kecil hingga tiga kali lipat melalui teknologi.

Bahkan di tanah kita, Gorontalo, geliat anak muda di sektor perikanan budidaya, wisata bahari berbasis konservasi, hingga pemanfaatan energi laut mulai tumbuh. Mereka bekerja diam-diam, namun dampaknya terasa.

Kita tidak sedang kekurangan suara. Kita kekurangan gerakan. Yang kita perlukan bukan pemuda yang sekadar mahir berorasi, tapi mereka yang bisa menyelami data, naik ke permukaan dengan solusi. Yang tak hanya menggugat, tapi juga merancang. Tak cuma marah, tapi juga membangun.

Karena sejarah tak pernah berubah oleh teriakan kosong. Ia diukir oleh mereka yang terus bergerak, meski dalam diam.

Laut Indonesia sedang mencari penjaganya. Anak muda, bersediakah engkau menjadi ombak yang mengubah arus itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *