pendidikan

Wartawan Diintimidasi Saat Liputan Dugaan Pungli di SMPN 1 Kota Gorontalo

×

Wartawan Diintimidasi Saat Liputan Dugaan Pungli di SMPN 1 Kota Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

TAJUK1.ID – Dugaan adanya pungutan liar berkedok koperasi siswa (Kopsis) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kota Gorontalo semakin mencuat setelah kepala sekolah enggan memberikan klarifikasi kepada awak media, Rabu (23/7).

Wartawan Tajuk.id yang hendak mengonfirmasi isu tersebut sempat mengalami kesulitan menemui kepala sekolah. Beberapa guru di lingkungan sekolah menyampaikan pesan bahwa sang kepala sekolah tidak berada di tempat.

Namun kenyataannya, kepala sekolah perempuan tersebut diketahui tengah berada di dalam ruangannya.

Situasi mulai berubah saat sang kepala sekolah keluar dari ruangan dan tak sengaja terciduk oleh wartawan. Terlihat jelas raut gugup menghiasi wajahnya.

Ia sempat mondar-mandir di lorong kantor dan berusaha menghindari wawancara. Saat ditanya, ia hanya menyampaikan singkat, “Besok saja, Pak,” lalu berlalu pergi tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Tampak depan ruangan Kepala sekolah SMPN 1 Kota Gorontalo
Tampak depan ruangan Kepala sekolah SMPN 1 Kota Gorontalo

Beberapa menit berselang, muncul seorang pria berseragam yang mengaku sebagai security. Dengan nada tinggi, pria tersebut mendatangi wartawan dan menyuruh agar segera meninggalkan area sekolah.

“Sekolah sudah mau tutup, Pak. Pulang saja,” ujar pria tersebut dengan nada tak bersahabat.

Ketika wartawan menanyakan nama lengkap kepala sekolah, pria itu justru menjawab, “Saya tidak tahu. Saya bukan security di sini.”

Respons tersebut memunculkan kejanggalan. Wartawan lalu menanyakan identitas sang pria serta penugasannya di lingkungan sekolah. Namun yang bersangkutan justru mengaku berasal dari Kampus 4 dan bertugas di sana, bukan di SMPN 1.

Dengan nada mengancam, pria itu berkata keras, “Kenapa tanya-tanya?” sembari menunjukkan gestur menggertak.

“Saya bertanya baik-baik, Pak. Tidak salah, kan? Boleh, kan?” ujar wartawan menanggapi.

Alih-alih meredakan situasi, pria tersebut justru menjawab, “Bapak, saya juga wartawan,” sambil memelototi wartawan.

Insiden ini menggambarkan sikap pihak sekolah yang terkesan tidak koperatif terhadap upaya konfirmasi terkait dugaan pelanggaran yang terjadi.

Lingkungan pendidikan semestinya menjadi ruang terbuka untuk transparansi dan akuntabilitas, bukan justru menciptakan ketegangan dan intimidasi terhadap jurnalis yang menjalankan tugasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMPN 1 Kota Gorontalo belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan pungutan liar melalui koperasi siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *