TAJUK1.ID, GORONTALO – Di suatu masa depan yang tidak terlalu jauh dari detik ini, ketika suhu Gorontalo tetap setia pada angka yang bikin dahaga datang tiap lima menit, jalanan di sekitar bundaran Hulondalo Indah, tepat di Jalan Panjaitan eks Nani Wartabone, akan menjadi saksi kisah kecil yang tak tercatat di lembaran perundang-undangan tapi tercatat di hati para pedagang keliling.
Ketika Aliansi Kesatuan Sopir Gorontalo, bersama mahasiswa-mahasiswa yang idealismenya masih hangat seperti kuah bakso baru mendidih, menggelar aksi unjuk rasa, ada rezeki yang ikut berkumpul di samping SPBU Kota Gorontalo.
Bukan dalam bentuk amplop atau sumbangan sosial politik, tapi dalam bentuk pembeli yang tidak terduga wartawan yang lapar berita dan lapar nasi, aparat yang berdiri lama menahan panas dan butuh yang segar-segar, serta para demonstran yang teriak-teriak hingga tenggorokan kering.
Dan di sanalah mereka para pedagang bakso keliling dan penjual es bersepeda dorong. Mereka tidak berteriak, tidak membawa poster, tidak mengacungkan tangan ke udara. Tapi mereka hadir, dengan gerobak yang disusun penuh harap, dengan termos es dan kuah panas yang siap menyembuhkan siapa pun dari kelelahan jalanan.
“Kalau bisa demo tiap hari, alhamdulillah,” ujar Mas Likin, pedagang bakso keliling yang biasa parkir di dekat trotoar tapi hari itu maju mendekat ke kerumunan. “Biasanya jualan sore baru habis, tadi jam dua siang sudah kosong. Polisi lima mangkok, wartawan empat, mahasiswa tiga, supir truk sembilan mangkuk Alhamdulillah.” Senin (07/07/25)
Sementara itu, pak Alfi, penjual es keliling tidak kalah sumringah. “Tangan saya pegal ngambilin es, tapi hati senang. Anak-anak mahasiswa itu baik-baik, ada yang beli dua, ada yang bayar lebih. Katanya, ini es perjuangan,” katanya sambil tertawa kecil, menunjukkan wajah berkilau di tengah terik.
Yang menarik, aksi ini tidak hanya memantik sorotan soal undang-undang Over Dimension and Over Load, tetapi juga menciptakan ruang bagi ekonomi mikro yang sering kali luput dari rencana strategis pembangunan daerah. Tak ada grand design untuk ini, tapi siapa sangka dari hiruk-pikuk demonstrasi, lahirlah kesempatan ekonomi kecil-kecilan yang sangat manusiawi.
Bayangkan saja di tengah panas terik, keringat mengucur dari para sopir dan mahasiswa yang berdiri menyuarakan keadilan. Di situ pula, semangkuk bakso atau segelas es bisa menjadi peredam panasnya isu dan meredakan tegangan antara demonstran dan aparat.
Mungkin, kelak pemerintah perlu menyusun anggaran ‘restoratif’ untuk para pedagang mikro yang berada di garis depan kegiatan sosial-politik semacam ini. Karena nyatanya, di sela teriakan “hidup rakyat!” dan desakan kaji ulang Undang-Undang 22 Tahun 2009, ada transaksi-transaksi kecil yang membahagiakan di sudut jalan.
Tidak semua berkah datang dari langit. Beberapa datang dari aksi. Dari teriakan. Dari panas aspal. Dan dari kebutuhan manusiawi untuk makan, minum, dan terus hidup.
“Kalau bisa ada demo dua kali seminggu, saya dukung,” kata mas Likin dengan serius, walau sambil menghisab sebatang rokok.












