Tajuk1.id, Gorontalo – Abdul Razak Konoli, aktivis Gorontalo mengeluhkan jembatan yang rusak akibat diterjang banjir setahun lalu tidak kunjung diperbaiki. Jembatan penghubung antara dua desa yang rusak tersebut membuat warga menyeberang melewati sungai.
Abdul Razak menilai, pemerintah tidak serius menangani persoalan ini.Sejak tahun 2024 silam warga harus bertaruh nyawa hanya sekedar melintasi arus sungai untuk menyebrang antar desa.
Jembatan tersebut terletak antara Desa Polohungo dan Desa Binajaya, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
“Jembatan itu bukan cuma jalur lalu lintas, tapi nadi kehidupan warga. Ketika rusak, maka seluruh aktivitas masyarakat lumpuh. Tapi sayangnya, pemerintah abai,” tegas Abdul Razak saat ditemui, Selasa (17/06/2025)

Menurutnya, setiap musim hujan, warga Desa Polohungo menghadapi risiko tinggi. Air sungai yang meluap memutus akses desa, memaksa warga mengangkat sepeda motor secara gotong royong untuk menyeberang, bahkan saat malam hari. Kondisi ini kerap nyaris merenggut nyawa.
“Beberapa warga hampir hanyut terbawa arus. Tapi mau bagaimana lagi, kami tidak punya pilihan. Anak-anak harus sekolah, hasil panen harus dijual, orang sakit harus dibawa ke rumah sakit,” ungkap Ketua Eksekutif LMND Gorontalo itu.
Abdul Razak Konoli menyayangkan sikap diam Dinas PUPR dan pemerintah daerah. Meski warga telah berkali-kali menyampaikan keluhan, belum ada langkah konkret untuk memperbaiki jembatan tersebut.
“Apakah nyawa orang desa tidak sepenting proyek-proyek besar di kota? Apakah pemerintah hanya mau datang saat musim kampanye? Ini pertanyaan yang harus dijawab oleh hati nurani mereka,” katanya.
Ia menegaskan, masyarakat tidak meminta fasilitas mewah. “Kami tidak minta jalan tol. Kami hanya minta satu jembatan yang kokoh agar kami bisa hidup layak dan tidak merasa ditinggalkan oleh negara.”
Kondisi jembatan yang rusak juga berdampak pada akses pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Anak-anak kerap absen sekolah, petani rugi karena tidak bisa menjual hasil panen ke pasar, dan pasien kritis harus menunggu air sungai surut untuk bisa dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Abdul Razak Konoli berharap pemerintah segera bertindak sebelum terjadi hal-hal yang lebih buruk. “Jangan tunggu ada korban jiwa baru semua bergerak. Jangan tunggu viral dulu baru sibuk cari solusi,” pungkasnya.








