Tajuk1.id, Gorontalo, – Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID) wilayah Gorontalo mengungkap dugaan keterlibatan jaringan kartel dalam pengelolaan tambang batu hitam di Kabupaten Bone Bolango.
Aktivitas yang disebut sebagai operasi terstruktur itu diduga melibatkan investor nasional, pengusaha lokal, hingga oknum aparat penegak hukum.
Ketua LMID Gorontalo, Khalifah Ridho, menyebut Bone Bolango sejak lama hidup dari tambang mineral logam, terutama emas, yang dikerjakan rakyat.
Namun dinamika pasar global khususnya meningkatnya kebutuhan industri China mendorong pergeseran besar ke komoditas batu hitam.
“Sejak pasar China mengubah arah industrinya, batu hitam Indonesia mulai diburu investor. Di Gorontalo, nama-nama seperti Djolie Trisno dan Santos sudah lama diketahui publik,” kata Ridho dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, jaringan itu bekerja layaknya kartel mengatur penambangan, pengumpulan material, jalur angkut darat, aktivitas bongkar-muat, transportasi laut, hingga akses ke pabrik pengolahan di Jakarta.
Ridho menyebut salah satu titik pengumpulan terbesar berada di Desa Tinemba, Kecamatan Suwawa Timur.
Gudang tersebut, kata dia, dimiliki seorang pengusaha sekaligus politisi partai hijau berinisial F.L., dengan Y sebagai penghubung ke para penambang.
“Di gudang F.L. ditemukan ribuan karung batu hitam yang kuat diduga milik Djolie Trisno,” ujarnya.












